Showing posts with label Ngacapruk. Show all posts
Showing posts with label Ngacapruk. Show all posts

Monday, August 03, 2020

Sebuah Renjana



Dalam suatu kala, dua makhluk berbincang riang pada sejumlah pagi tentang berbagi bersama atas kepemilikan sebuah mimpi pada sebidang ruang tempat bernaung dengan jendela beringas yang tak merasa perlu menghalau sengatan hangatnya cahaya matahari pagi hingga sendunya pijaran bintang dan syahdunya sinar bulan menyapa.

Tanpa perlu risau hidup bertetangga yang seringkali lupa akan garis batas penanda etika.

Tentang beranda luas dimana segala makhluk bisa bertumbuh bersama.
Kecambah-kecambah yang menyeruak gembira, pohon-pohon berdaun rimbun yang menjadi peneduh akan segarnya udara;
Setiap kicauan burung, racauan serangga, gonggongan anjing dan goyangan ekornya yang bersuka-cita, hingga kucing-kucing yang saling mengeong berlarian merdeka.
Atau juga, menjadi tempat berlindung pula bagi setiap makhluk-makhluk baik hati yang tak kasat mata. Biarkan saja.

Alam dan setiap makhluk yang terlibat didalamnya berkesadaran penuh untuk saling merawat dan menjaga.

Maka setiap mimpi adalah do'a.
Memantik setiap jalan akan upaya.
Berkekuatan penuh terhadap kelapangan rasa didalam dada.
Tanpa jelaga.

Adalah renjana.


Pada sebuah pagi, 3 Agustus 2020.

Sunday, January 02, 2011

Si Dudut Lagi




Nambah lagi satu kerjaan Om Syam sekarang, Si Dudut maunya disuapin Om Syam!
Hmmm... manakah pernyataan berikut yang menurut anda benar:
  1. SiSyam sudah siap menjadi Ayah? atau
  2. SiSyam sebetulnya cocok dan segeralah membuka jasa Baby Sitter?

Tuesday, December 14, 2010

Sudah Mau Jadi Ayah

Akhir pekan kemarin keluarga besar kami bisa berkumpul bersama dirumah orangtua kami. Adik yang datang berkunjung dari kediamannya kini, Bogor, dan juga teteh bersama suami dan putra pertamanya yang tengah ‘mengungsi’ tinggal dirumah orangtua karena rumah mereka yang masih direnovasi, juga sekaligus menanti kelahiran putra kedua teteh dan kakak ipar menjelang usia kandungan teteh yang kini 8 bulan. Sangat menyenangkan bagi kami setiap kali ada kesempatan untuk dapat berkumpul kembali secara utuh dalam satu atap rumah orangtua kami, setelah masing-masing dari kami 3 bersaudara memiliki jalan hidup masing-masing. Terlebih dengan hadirnya anggota keluarga baru, Adam Mulqiyattul Haq, putra pertama teteh, cucu pertama mamah dan bapak, sekaligus keponakan pertama saya.

Sudah pasti kehadiran Adam dirumah dengan segala tingkah polahnya yang polos dan lucu, semakin cerewet dan lantang sudah bisa menyampaikan keinginan dan berekspresi dengan kata-kata, dan karakter tak mau diam dan cukup pemberani untuk memenuhi rasa ingin tahunya sebagai balita yang kini berusia 18 bulan sebagai tokoh utama yang menarik keseluruhan perhatian kami kini. Masing-masing dari kami memiliki panggilan yang berbeda-beda untuk Adam. Teteh dan kakak ipar masing-masing memberi nama panggilan ‘Sayang Bunda’ dan ‘Sayang Ayah’, sementara sisanya memanggil Dam-dam, Jibrut, atau Aa Adam, dan saya memberi nama panggilan ‘Si Dudut’.

Friday, December 10, 2010

Tagore Buat Saya



Pertama kali saya mengenal Rabindranath Tagore adalah ketika saya masih duduk di Sekolah Dasar, sebagai bagian dari pelajaran sekolah saya waktu itu. Yang saya dapati ketika itu adalah beliau seorang penulis luar biasa walaupun tulisan-tulisannya sulit dicerna untuk bocah yang baru menginjak usia sepuluh tahun. Tetapi saya tahu bahwa saya langsung mengidolakan beliau ketika itu, dan saya semakin senang menulis secara terselubung karenanya, karena saya seringkali mendapat respon tawa yang entah sebagai wujud ejekan atau pujian atas tulisan-tulisan saya, tapi juga semakin giat mengirimkan tulisan-tulisan saya kepada surat kabar yang memiliki sisipan halaman anak-anak setiap minggunya demi upah wesel sepuluh ribu rupiah untuk setiap tulisan saya yang dimuat dan akan dilipat-gandakan jumlahnya oleh mamah, sebagai wujud apresiasi beliau untuk saya ketika itu.

Baru kemudian ketika saya mulai menginjak masa sekolah menengah atas, saya mulai memahami secuil karya-karya beliau yang cukup membekas dibenak saya dan benar-benar menjadikannya sebagai idola saya semenjak itu, seringkali meniru gaya penulisannya tetapi juga selalu gagal, terlebih saat itu saya mulai cukup sok' tahu memaknai hidup dan kehidupan, mulai menorehkan setiap apa yang ingin saya tulis pada sebuah buku kumal, dan semakin kumal kini, mengembara dengan apa yang tengah dirasa bersama pena. Sempat pula membaca beberapa buku kumpulan karya Jalaluddin Rumi yang dikenalkan oleh paman saya, tapi setelah beberapa lama, saya cukup menyerah untuk dapat memahami karya-karya Rumi yang cenderung pada karya seorang sufi, dan entah mengapa saya selalu menghindari memahami apa yang menjadi maksud tulisan-tulisan Gibran.

Tuesday, December 07, 2010

Desember Belum Berakhir



Sudah lebih dari empat bulan terakhir saya menantikan hadirnya bulan ini, bulan desember, bulan dimana dua rencana besar atas pengharapan indah saya yang mendapati sinyal baik untuk menjadi sebuah realita.

Sudah lebih dari empat bulan terakhir ini pula saya mendedikasikan diri atas sebuah penantian dan persiapan pada sebuah impian besar dalam hidup ini, berimbas dengan hadirnya senyuman setiap malam sesaat sebelum takluk pada kantuk. Seolah mendapati hadiah tegukan air sejuk setelah beban dan lelah yang menjadi pencapaian sepanjang hari.

Tetapi kemudian, bagian dari perjalanan hidup yang seringkali tak pernah saya sukai tetapi mau tidak mau harius dihadapi, dimana seringkali bak' sepenggal potongan film atau bahkan rentetan opera sabun yang dipenuhi dramatisasi konflik, sesaat setelah senyuman berubah menjadi seringai menyambut hadirnya bulan dambaan, hanya dengan satu intrik yang hadir diluar rencana dan sialnya tak pernah terduga, dengan mudahnya berhasil menghancur-leburkan angan-angan.

Tetapi tekad tak akan membiarkan segalanya menjadi sebuah tragedi. Masih ada januari maupun mei, dan tak jadi soal bila harus desember lagi nanti. Bahkan, belum berakhir pun desember yang ada kini.

Bahwa saya tidak akan berhenti.

Saturday, December 04, 2010

Kamis Malam



Bagaimana bisa hanya dengan satu tatapan itu mampu membuat lemas lutut, membungkam mulut, serasa ingin memuntahkan isi perut atas diri yang dibuat kalut.

Tolong, jangan buat saya menjadi diam.
Jangan buat saya merasa semakin terbungkam.
Saya tak sanggup melihat bulan berubah menjadi suram.

Malam hanya akan membuat segalanya semakin gelap, tetapi jiwa tengah berharap semakin kalap.


Tuesday, November 30, 2010

Biarlah



Hadapi sajalah.
Jalani sajalah.
Dinikmati sajalah.

Tetap dinanti sajalah...


Dan mengapa harus ada 'lah'??
*Blah!*

Wednesday, November 24, 2010

Sendiri Bukan Sepi


Entahlah, mungkin memang saya yang tengah gagal memahami diri sendiri.
Meniadakan sebuah kesempatan hanya karena seringkali merasa tiada kebutuhan, melebihi harapan.
Mengupayakan perwujudan nyata atas sebuah harapan, namun berbenturan dengan segala macam perlawanan.

Saya tidak pernah merasa ingin mencapai sesuatu demi sebuah kebenaran. Kebenaran seringkali membutakan, tak jarang diperjuangkan dengan pemaksaan hingga kekerasan. Sehingga tidak pernah merasa setiap kebenaran adalah baik.

Saya hanya ingin sekedar melewati hidup yang mampu memberi kebaikan pada keseluruhan perjalanan hingga pada sebuah akhir yang menjadi tujuan.

Kebaikan tidak bisa dihakimi,
Kebaikan tidak bisa di intervensi,
Kebaikan hanya bisa dinilai oleh masing-masing pemilik hati.

Saya tahu bahwa saya tidak seorang diri, tetapi bukankah kita semua harus mengerti satu bentuk kesepahaman bersama yang utuh untuk selalu berbagi bumi bagi setiap pijakan dan langkah kaki tanpa saling menghakimi, tanpa saling mengintervensi, menghargai setiap pilihan yang berdasar masing-masing panggilan hati.

Percayalah, saya tidak berarti tak peduli jika merasa tak perlu turut berlari.


Monday, November 22, 2010

Pada Suatu Hari



Suatu hari saya pernah berapi-api untuk memiliki mimpi-mimpi.

Suatu hari saya pernah dipenuhi nyanyian imajinasi mimpi-mimpi.

Suatu hari saya pernah menantang kepesimisan pandangan-pandangan mata atas mimpi-mimpi.

Suatu hari saya pernah bertaruh harga diri mempertahankan mimpi-mimpi.

Hingga suatu hari saya pun pernah turut meragukan, mempertanyakan, mengabaikan, memati-surikan mimpi-mimpi.

Dan suatu hari saya pernah harus memulai kembali menyusuri jalan-jalan menuju mimpi-mimpi.


Tanpa saya sadari, bahwa saya tengah menjalani satu mimpi menuju mimpi-mimpi lainnya silih berganti. Untuk satu mimpi, atas keseluruhan mimpi.

Wednesday, November 17, 2010

Hari Ini, Satu Tahun Yang Lalu.



Masih teringat dengan baik sebuah cerita hidup saya pada hari ini, satu tahun yang lalu. Di sebuah salah satu hari besar agama saya, Hari Raya Iedul Adha, saya berada dalam sebuah kondisi yang cukup pahit, terjebak dikamar kost tidak bisa kemana-mana. Tak ada sedikitpun kemampuan untuk mudik ke kota asal saya tempat keluarga saya berada, Bandung, merayakan hari raya ini bersama keluarga.

Entah kenapa pada waktu itu tak saya ceritakan kisah ini disini, tapi saya masih menyimpan dengan rapi beberapa foto yang saya abadikan dihari itu.


Wednesday, November 10, 2010

Tentang Sebuah Hal.





Apakah sebuah kebahagiaan dapat diukur dari seberapa banyak senyuman yang bisa diberikan?


Lalu Mengapa perasaan hampa yang seolah menjadi raja dari setiap kebisuan atas setiap upaya pemberian senyuman?


Sungguh seorang diri merasa menjadi manusia bisu setiap kali hanya bisa tersenyum.


Seorang diri merasa menjadi manusia penuh cela setiap kali tertawa.


Seorang diri merasa menjadi manusia tanpa daya setaip kali hanya bisa berkata-kata.


Saat seorang diri hanya ingin menyendiri tanpa harus sendiri.


Sejenak ingin pergi tanpa harus meninggalkan,

Tanpa perpisahan,
Tanpa harus dilupakan,

Tanpa rasa rindu.


TENTANG APAKAH SEMUA INI?


Saturday, October 16, 2010

Satu.


Apa yang anda lakukan jika sebuah pengalaman menyenangkan tetapi berujung menyakitkan terindikasi terulang lagi?

Bagai mendapatkan kesempatan duduk pada sebuah kursi disebuah taman yang sungguh indah, begitu besar keinginan untuk segera mendudukinya dan untuk segera menikmati setiap pemandangan yang terhidang dihadapannya yang mampu memanjakan mata.


Namun kemudian, impian seringkali memang tak seindah kenyataan.

Kursi tersebut tersedia hanya untuk satu orang saja, hanya satu orang saja!

Apakah juga kemudian terdapat kesempatan memanjakan hati hanya dengan seorang diri saja?

Wednesday, October 06, 2010

Berkawan Hujan



Entah mengapa saya sungguh menyukai hujan.
Tak banyak keluh yang saya rasakan atau bahkan yang saya utarakan mengenai hujan.

Hujan adalah menyenangkan!
Hujan adalah tawa gembira, perasaan suka cita, iringan musik bahagia ketika tetesannya seolah mencubit genit kulit, membelai manja rambut, hingga menyetubuhi raga.

Hujan adalah harapan!
Hujan memberi ruang, memberi waktu kepada penikmatnya ketika alirannya yang seolah sendu menjalar kaca jendela untuk meyakinkan bahwa sebuah penantian tidak akan pernah berakhir sayu.

Jikapun tak ada pelangi, hujan tidak pernah diakhiri dengan gelap.

Sunday, September 12, 2010

Dia Tertidur Dengan Marah.




Pada akhirnya, saya membutuhkan sebuah pernyataan.
Sedikit putus asa, menantikan wujud perjuangan.
Memperjuangkan dan diperjuangkan.


Dan Dia pun kemudian hanya pergi tidur dengan marah!



Thursday, August 19, 2010

Saya, Saya, dan Saya!



Ketika diri tengah mempertanyakan keberadaan diri yang masih tak berkesudahan, kemudian juga harus menghadapi keadaan bahwa diri ini pula dipertanyakan.

Hey, Bagaimana 'Buku Manual Menjalani Hidup' memberikan petunjuk pelaksanaan menghadapi situasi semacam ini?

Jawaban macam apa yang harus saya berikan atas pertanyaan yang juga tengah saya tanyakan?


Mulutpun kemudian hanya seolah terkunci.


Tangan kanan meraba-raba keberadaan akal pikiran apakah masih pada tempatnya?

Kemudian menjadi apakah akal pikiran itu pernah ada?

Atau bahkan bahwa itu semua hanyalah bualan belaka?


Dengan sisa tenaga yang ada, tangan kiri hanya sanggup meraba-raba keadaan hati yang diyakini keberadaannya, tetapi tak juga tahu seberapa besar kegunaannya.


"Apakah saya ini manusia?"


Dan matapun tiba-tiba terbelalak, jantung berdetak saling berpacu, atas sebuah pertanyaan baru yang tiba-tiba ada, "Apakah itu sebenarnya manusia?"


Wednesday, August 18, 2010

Rumah.



Apa yang anda lakukan ketika mempertanyakan diri sendiri?

Ketika waktu terus berjalan mengantar perjalanan-perjalanan hidup lainnya, dimana hanya akan menjadi skedar masa lalu nantinya.

Rutinitas hidup kemudian memberikan gambaran tentang suatu masa dimana anda hanya terus berjalan dan berjalan.
Ada pula saat-saat ketika langkah tengah dipersulit sehingga sedemikian rupa hanya berusaha bertahan walau dengan berseok-seok.

Atau ada saat dimana anda tersadar untuk duduk sejenak, terkadang dengan pohon peneduh, kemudian mengingat setiap langkah yang pernah ada menjadi satu-satunya harta peneman hidup.


Lalu apa sebenarnya upaya itu?

Lalu seperti apa sebuah hasil sesungguhnya berwujud?

Dan seindah apakah ruang itu?
Seindah apakah ruang yang khalayak sebut sebagai rumah itu sebenar-benarnya?


Monday, August 02, 2010

Sudut Kosong



Ketika suara-suara itu terdengar kembali..

Suara-suara yang begitu merdu, tetapi tak ada yang tahu berasal dari wajah yang tengah sayu mengiringi derap langkah yang begitu bisu.


Tak ada lagi keluh, walau raga dibanjiri peluh

Tak ada air mata, bahkan ketika hati tengah meronta.


Ketika bibir tak mampu berkata, karena begitu sulit mengungkapkan yang tengah dirasa.

Amarah tengah bergejolak atas tangan yang begitu ingin memberi, tetapi kaki terbentur rasa malu mendapati realita atas hidup yang diberi!


Jiwa tengah bergemuruh ingin menggapai, tetapi hati tengah tergerus, bahkan oleh rasa rindu.


Walau tak lagi mendapati gelap, namun dunia dengan sedikit sinar ini masih memberi ruang sepi.


Kekosongan diri yang tengah mendamba atas suatu harga agar menjadi manusia yang mampu untuk tahu diri, berbagi, mendapati arti, bahkan membalas budi..




Monday, July 26, 2010

Bapak dan Mamah.



Suatu hari saat kedatangan saya mengunjungi rumah beberapa minggu lalu, bersama-sama kembali bersama keluarga. Menjadi saksi kembali suasana rumah dan bagaimana kami memperlakukan satu sama lain, yang ternyata belum banyak berubah, hanya saja kini saya dan kedua saudara sudah memiliki kehidupan lain. Kakak yang telah berrumah tangga, saya yang akhirnya menjadi penjajah ibukota, juga adik yang juga bekerja di kota lain. Terkadang kami 3 saudara bisa mengunjungi Bapak dan Mamah pada saat yang bersamaan, seringkali bergantian tergantung dari waktu luang kami masing-masing.

Disaat kunjungan terakhir kemarin, saya punya waktu yang cukup banyak untuk bisa tinggal. Cukup banyak waktu untuk bisa melihat bagaimana kini kedua orang tua saya menghabiskan waktu-waktu mereka. Disaat dikunjungi kakak, Bapak dan Mamah begitu terlihat ‘hidup’ dan bersemangat mengurus cucu mereka atau keponakan saya, seperti mereka sudah tidak peduli dengan keberadaan kami anak-anaknya. Disaat lain saya kemudian menyaksikan bagaimana kini Bapak dan Mamah semakin mesra memperlakukan satu sama lain, sangat berbeda dengan ketika dulu mereka masih harus bertanggung jawab membesarkan kami. Kini mereka hanya mau menyantap makanan entah itu makan pagi, makan siang ketika Bapak sedang tidak bekerja, atau makan malam yang harus dilaksanakan berdua. Begitupun sholat selalu berjamaah berdua kini, bahkan bertadarus Qur'an berdua selepas maghrib hingga isya, kemudian kebiasaan baru menghabiskan waktu selepas Isya berdua di teras rumah untuk bercanda atau bermain games handphone bersama. Suatu pemandangan yang membahagiakan bagi kami anak-anaknya.

Di salah satu malam disaat kunjungan terakhir kemarin saya itu kemudian saya melihat kebiasaan Mamah yang menurun ke adik saya, yaitu mudah tertidur di mana saja. Di malam itu, disaat udara Bandung tengah begitu dingin dimalam hari, saya tahu mamah tertidur di sofa yang berada di ruang keluarga kami ketika sedang menyaksikan televisi. Tanpa sengaja saya melihat Bapak yang tengah memandangi Mamah yang sedang tertidur lelap, Saya tahu Bapak pun tidak tega membangunkan Mamah untuk melanjutkan tidur di kamar. Bapak pun kemudian membawakan selimut dan bantal, menyelimuti Mamah, membuat agar sofa menjadi tempat yang nyaman dan hangat bagi Mamah untuk tidur malam itu. Untuk kemudian saya tahu, bahwa Bapak berkorban tidur didalam kamar seorang diri, tanpa selimut, di malam yang sangat dingin.

Beberapa hari berikutnya disaat saya harus kembali ke Jakarta, saya memutuskan kembali ke Jakarta dengan kereta pagi, sehingga saya harus berangkat dari rumah sebelum subuh. Untuk pamit, saya harus membangunkan Bapak dan Mamah yang tengah tertidur. Terlihat begitu lelap dan hangat dalam satu selimut, Bapak yang tengah memeluk Mamah. Rasa tidak tega bagi saya untuk membangunkan mereka di pukul 02.30 pagi, waktu disaat tengah lelap-lelapnya tidur bagi siapapun. Tapi saya pun juga tidak ingin pergi meninggalkan mereka tanpa mereka ketahui, dan yang pasti saya tidak mau pergi tanpa restu mereka. Dengan sebisa mungkin saya membangunkan mereka dengan lembut dan pelan-pelan, kemudian saya ucapkan kalimat pamit saya kepada Bapak dan Mamah untuk kembali ke Jakarta sampai kunjungan pulang saya berikutnya ke Bandung yang entah kapan. Dibalas dengan kalimat-kalimat do’a dari Bapak dan Mamah seperti biasanya, juga kalimat-kalimat mengingatkan untuk tidak meninggalkan sholat, makan tepat waktu, dll. Ritual pamit terakhir kami dengan mencium tangan Bapak dan Mamah satu-persatu.

Terasa bahwa tangan Bapak dan Mamah sudah tidak seperti dulu ketika saya masih sekolah menciumi tangan mereka saat akan berangkat sekolah. Tangan Bapak dan Mamah yang menunjukkan bahwa mereka kini tidak lagi muda, sedikit terasa kasar dimakan usia, tak lama lagi menjadi senja. Teringat cerita buku 5 cm karya Dhonny Dirganthoro ketika salah satu tokohnya hampir menangis menyadari bahwa ibunya sudah menunjukkan ketidakmudaannya ketika mencium tangannya meminta restu. Disaat itu saya pun bisa mengerti benar perasaan sang tokoh dibuku itu. Terutama atas rasa sedih dan kecewa akan diri sendiri, karena sebagai anak, masih juga belum sanggup memberikan saran pilihan utama kepada Bapak untuk segera sepenuhnya pensiun, hanya tinggal dirumah menemani, melindungi, dan menikmati hari-hari tua bersama Mamah.



“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”



Monday, June 21, 2010

Road Trip To Lampung



Satu kelebihan dari pekerjaan saya adalah seringkali menuntut untuk mengunjungi beberapa kota di Indonesia, which is i love it, so I LOVE MY JOB!
Namun, baru kesempatan ke Lampung beberapa waktu lalau lah, saya mulai berkeinginan mengabadikan setiap moment yang yang ingin saya ingat dari perjalanan itu. Dengan kata lain, baru kali itu lah saya punya kamera yang sedikit proper. heheheee...

mulai dari pemandangan yang memanjakan mata saya ketika melintasi selat sunda.


Menikmati tenggelamnya matahari.

Saya juga tidak merasa mengeluh dengan pemandangan gunung-gunungnya, yang dari Gunung Talang Es, bahkan tetap bisa terlihat luasnya lautan, sayangnya semua hasil jepretan saya tidak ada yang bagus dari gunung itu.



Dan beberapa kesempatan menyenangkan lainnya yang tidak saya bagi disini, yang artinya hasil gambar saya tidak memuaskan. Masih harus banyak belajar, dan kesempatan-kesempatan berjalan-jalan lagi tentunya. Ada yang mau membantu saya? :)

Saturday, January 02, 2010

Hidup itu terlalu singkat?


Semakin malam, menjelang pagi, pengalaman menyenangkan yang saya alami tidak juga membuat saya mudah tidur. Teringat dihari pertama di tahun 2010, ketika tidak terlalu banyak mendapat sms ucapan selamat tahun baru, karena perhatian kawan-kawan teralihkan atas suatu kabar memberitahukan kepada saya melalui sms dan beberapa telepon atas meninggalnya seorang teman.

Berita semakin mengejutkan ketika mengetahui bahwa teman saya itu tengah bersama keluarga berjumlah 6 orang dalam sebuah kecelakaan mobil yang menabrak sebuah bis di jalur pantura di malam tahun baru, tak ada yang selamat dari ke-enam orang tersebut, termasuk teman saya yang akhirnya meninggal dirumah sakit. Tak lama saya melihat berita tersebut disebuah televisi nasional, semakin meyakinkan saya ketika pembawa berita menyebut satu-persatu nama korban meninggal, dimana saya mengenal salah satu nama diantaranya. Melihat kondisi kendaraan setelah kecelakaan dan ilustrasi kronologis kecelakaan dari sang pembawa berita. Tak sengaja saya pun melihat berita tersebut di kompas.com, sehingga saya bisa berbagi fotonya.


Berbagai perasaan 'ngilu' memikirkan berada dalam mobil tersebut, berbagai cerita hidup almarhumah setahu saya, rasa penasaran misteri yang dirasakan almarhumah setelah kecelakaan menjelang ajal di rumah sakit, hingga tentang segala misteri kematian bagi siapa saja yang dapat terjadi kapan saja, dimana saja, bahkan dengan cara yang tak terduga. Saya sulit tidur dimalam sesudahnya, hingga malam ini, dimalam kedua setelah saya mendapat kabar ini, saya masih sulit tidur.

Saya tidak terlalu mengenal almarhumah semasa hidupnya. Yang saya tahu almarhumah sekitar 5 tahun lebih muda dari saya, pernah menjadi kekasih sahabat saya, dan sempat bekerja bersama dalam sebuah event.

Yang menyedihkan, semasa hidup almarhumah, penilaian saya secara pribadi tidak terlalu baik bagi almarhumah, saya sedikit banyak tahu bagaimana almarhumah memperlakukan sahabat saya ketika menjadi kekasihnya, melihat pembawaan dirinya dalam pergaulan sehari-hari dengan paras manisnya tapi sayang begitu mudah didekati berbagai macam lelaki, bahkan ketika menyatakan diri tengah memiliki kekasih, masih begitu sangat terbuka bagi segala macam laki-laki. Dan disitulah pikiran saya semakin menjadi-jadi. Saya yakin almarhumah memiliki begitu banyak kebaikan, yang sayangnya atas dasar karena saya merasa tidak terlalu mengenal almarhumah semasa hidupnya. Dengan perasaan menyesal saat ini, saya hanya bisa mengirimkan do'a, berharap atas tempat yang tenang di alam yang menjadi berbeda bagimu sekarang, teman..

Saya melihat diri saya sendiri, dengan segala refleksi penilaian siapapun yang pernah mengenal saya atas hidup saya, terutama penilaian saya sendiri atas kehidupan diri sendiri. Dan yang begitu menakutkan adalah tentang bagaimana penilaian yang sebenarnya dari Sang Pencipta atas sebaik mana kita memperlakukan anugerah hidup yang diberikan-Nya. Dasar-dasar yang membuat saya menyadari betul ketidaksanggupan atas pertanggungjawaban jika harus menghadapi berakhirnya hidup. Lalu bagaimana dengan esok?? lusa?? minggu depan?? Tahun depan?? 5 tahun tahun yang akan datang?? atau kapanpun itu, Syam?? Jika memang masih mendapati nikmat atas nafas itu..

SAYA TIDAK TAHU!!!!
Dan ketidaktahuan itu justru semakin menyiksa.

Kalimat bijak bisa saja menyebutkan ini bisa dijadikan sebagai hadiah pengingat dari Tuhan dalam mengawali kehidupan di tahun baru ini. Dan mungkin memang.



yang saya tahu, saya tengah begitu mengagumi atas kehidupan baru makhluk kecil ini. Tidur yang nyenyak sayang..