Wednesday, June 14, 2017

Penggenap Teduh


Semesta membawa pada sebuah perjalan untuk setiap yang saatnya tepat. 

Tanpa harus ada usaha yang sia-sia, tak perlu dengan dusta, tak merasa harus berpura-pura. Mendekati sempurna. 

Mudah. Tak memberi susah. Tak berakibat resah. Dan terasa sungguh megah. 

Ia yang hadir bukan karena datang, adalah saat saling menemukan. Semoga tak perlu ada saatnya pergi. 

Menggenapkan keteduhan. 



to the future we surrender! Life's to live and love's to love. ~ FLOAT. 




Wednesday, May 03, 2017

Kembali Bertemu Teduh

Kepada semesta saya mulai belajar berpasrah. 
Menyerahkan hidup untuk tetap ada dan cukup dengan seadanya. 
Menyederhanakan hal dengan menjadi rela. 
Menelusuri perjalanan dengan sewajarnya tak lagi banyak meminta. Cukup menikmati saja apa yang tersaji didepan mata. 

Kemudian saya merasa utuh. 
Akhirnya jiwa mendapati penuh. 

Pula akhirnya saya kembali bertemu dengan teduh. 

Monday, April 10, 2017

Terbentur Batu, Menyentuh Ujung Kuku.

Seringkali di masa yang belum lama, mengucap "tahu apa kamu soal saya?
Kepada sesiapa yang mudahnya berasumsi bahkan menghakimi.

Saturday, April 08, 2017

Dimanakah Kamu?

Disuatu ketika di tahun 2007, menghabiskan waktu dengan menikmati mall yang masih tergolong baru kala itu, seruput Mexican Iced Coffee kegemaran sambil update html myspace saat itu, menonton film "3 Hari Untuk Selamanya" di bioskop baru yang mengusung  konsep seru pengancam twentyone masa itu, menyaksikan pertunjukan langsung Float pertama kalinya. Lagu "Sementara" yang bercerita seolah  diciptakan untuk saya ketika itu. 

Jangan dikira saya tengah dijebak masa lalu. Ia tak akan menjebak, jika memang tak pernah beranjak. 


Tuesday, April 04, 2017

Saya Adalah Korban Pelecehan Seksual Pada Anak.

  
Sekilas, saya tengah mendapati photo masa kanak-kanak saya. Dibalik senyum malu-malu kala itu, saya sudah menyimpan ingatan kelabu yang terus mengganggu. Sampai kini. 

Sunday, April 02, 2017

Suatu Ketika, Menjelang Pagi.

Menjelang pagi saya mendapati diri menyepi.
Menjelang pagi saya menyatakan diri pergi. 
Menjelang pagi saya meresapi makna pergi yang bukan berarti lari.
Menjelang pagi saya tak mau lagi berdiri hanya untuk iri. Kepada mereka yang terlihat mudah menjalani hari-hari yang tersaji.

Saya tetap berkeras hati untuk mempertahankan mimpi, walau ia tak tahu diri.

Menjelang pagi saya menyadari untuk segera bercukur lagi.



Dengan segelas kopi, secuil roti, disebuah restoran siap saji, seorang diri, menjelang pagi. 

Saturday, April 01, 2017

Selayaknya Saya Berlalu.

Mendapati ia yang dalam sekejap pernah saya duga begitu angkuh menghakimi, ternyata memberi saya banyak keadilan.