Monday, March 05, 2018

CS Writers Club Bandung


Bergabung dalam komunitas CS Writers Club Bandung serupa berkah yang tak habisnya saya syukuri. Semacam menemukan sekelompok keluarga yang saya cari selama ini.

Untuk bergabung di komunitas ini, tak pernah saya ditanya soal siapa Tuhan mu, bagaimana kamu beribadah dan menjalani hidup sehari-hari, atau bahkan apa orientasi seksualmu.

Friday, February 16, 2018

Kisah Si Paimin

Artwork by Wokinhos.

Sekejap Paimin mendapati foto dirinya dimasa mungil. Dibalik senyum pemalunya saat itu, menyimpan sebuah pandora muram yang kemudian menyertainya sepanjang hidup, siang dan malam.

Selepas ia menyelesaikan ritualnya buang hajat, kemudian terperanjat pada sebuah ingatan sesaat. Serasa kemudian ingin menghujat. Kepada siapa ia layak menggugat?

Thursday, January 25, 2018

Blessing In Disguise

Ini bukan hanya semata-mata perkara seorang pria menjelang dewasa dengan keluguannya sebagai seorang tuna grahita menggesek-gesekkan batang tegang kemaluannya diantara belahan pantat mungil saya ketika kecil.

Bukan hanya perkara ketika saya tumbuh, terbiasa untuk selalu dituduh.
Dituduh membeda-bedakan sementara saya dididik dan dirawat dengan dibedakan sendiri.
Dituduh berbuat SARA dan dengki, tanpa pernah dikonfirmasi bahwa ini adalah urusan pelaku yang saya maki.
Dituduh bergantung, sementara nurani menantang; bagaimana bisa, ketika ingatan merasa selalu terbiasa berseorang diri.
Bahkan, dituduh pula menjadi penyebab gempa dan setiap bencana karena manusia-manusia macam saya ini.

Thursday, January 18, 2018

Tuesday, November 21, 2017

Being (Still) In Love With A Ghost (Not) Secretly.

Ia yang datang dan merasa saling menemukan. 

Ia yang hadir menyalakan sebuah mimpi yang layak untuk kembali diperjuangkan. 

Ia yang kemudian dalam sekejap melaju seolah merenggut keseluruhan hidup dengan pilu.  

Berdosakah saya untuk merindu sejumput perasaan itu kembali ketika ia merasa beruntung menemukan saya?

Merindu macam babu lama tak pegang sapu. 

Ia yang datang atas sebuah damba dan jawaban atas do'a. 

Ia yang hadir dengan begitu mudah. Tak memberi susah. Tak berakibat resah. Serasa bagai rumah. Dan terasa sungguh megah. 

Pertamakalinya dalam seumur hidup menemukan makhluk yang membuat diri ingin segera utuh. Dengannya serasa penuh. Penggenap teduh. Kepadanya saya merasa begitu bersungguh-sungguh. Tak peduli jika kemudian ia pula yang membuat jatuh. 

Ia yang kemudian berlalu dengan bisu macam hantu tak tahu malu menyisakan rindu macam benalu. 

Anehnya ketika ia lari, tak sampai hati menyatakan ia tak tahu diri. Intuisi yang kemudian menemani sepi. Karena tetap saja keyakinan ini tak juga turut mati. 

Untuk sebuah waktu yang tepat kembali berpihak, suatu saat nanti. 

Monday, October 09, 2017

No Preconceptions, Please.

Pada satu titik saya merasa begitu terjebak dalam sebuah asumsi, persepsi, dan ilusi seorang manusia terhadap manusia lainnya, yang adalah saya. Yang entah apa. 

Menyedihkannya, tak ada pula kerendahan hati terhadap kesempatan memberi dan diberi ruang bicara. Setiap orang berhak mendapatkannya, bukan? Untuk sekedar mengkonfirmasi, terlebih mencari tahu kebenarannya sendiri. Bukannya dihakimi begitu saja. 

Entah berapa kali hidup mengajarkan, bahwa asumsi tanpa konfirmasi seringkali hanya menyesatkan. 



Friday, August 11, 2017

Setidaknya

Pertama kalinya dalam seumur hidup dalam keadaan sadar, bukan lagi sekedar hubungan antara orangtua dan anak lelaki kecilnya, saya memeluk kedua orangtua saya. 

Seketika lubang-lubang kosong dari hati saya serasa terisi kembali sebagian. Kemudian memahami arti melepas dengan rela. Mengampuni apapun kesalahan mereka sebagai manusia. Membebastugaskan segala tanggung jawab mereka terhadap saya. 

Meskipun sebagian lainnya masih berlubang. Setengah penuh. 

Setidaknya.